Kang Hari

Sepucuk surat dari Jakarta datang pagi ini. Ntah buat aku bahagia atau bingung. Didalamnya tidak berisi seperti biasanya, kali ini bukan candaan dan cerita kegiatannya sehari-hari di sana melainkan ungkapan perasaannya

Sepucuk surat dari Jakarta datang pagi ini. Ntah buat aku bahagia atau bingung. Didalamnya tidak berisi seperti biasanya, kali ini bukan candaan dan cerita kegiatannya sehari-hari di sana melainkan ungkapan perasaannya. Dia menyatakan cinta dan kerinduannya padaku. Aku hanya bisa terdiam dan melamun sepanjang hari ini.

Sosok yang atletis, jangkung dan wajah rupawan, setiap gadis pasti mendambakannya. Tapi aku hanya menganggapnya hanya sebagai sahabat. Sahabat yang setiap bertemu selalu penuh canda dan tawa. Bukan hanya aku dan dia ada Candra , Bayu dan Angel. Kami berlima selalu menghabiskan keseharian kami dengan keseruan dan senda gurau. Kang Hari yang tertua diantara kami berlima. Sudah 6 bulan ini dia merantau di Ibu Kota Jakarta.

Setiap seminggu sekali dia selalu mengirim surat pada kami berempat. Dia selalu bercerita semua yang di jalaninya di sana, tak lupa mengirim cinderamata sebagai oleh-oleh yang datang bersama suratnya.

“Ran, ada telepon tuh” Kata mama sambil meletakkan gagang telepon.”Dari siapa ma?”
“Kang Hari katanya”
mendengar nama itu seakan dunia bergetar mengikuti irama jantungku yang berdebar. Ntah kenapa sejak membaca suratnya yang trakhir kali. Pikiranku tak bisa lepas dari memikirkannya.
“Assalamu’alaikum Ran…” mendengar suaranya makin dag dig dug.
Ya Tuhan, aku bingung harus berkata apa dan bagaimana bersikap.
“Ran, aku udah di Surabaya loh, kita ketemuan yuk”
OMG…dia udah di sini…minta ketemuan lagi.
“Hallo Ran, kamu masih di sana kan? kok ga di jawab sih…kamu pasti kaget ya dengan suratku yang terakhir” dia berusaha mencari jawaban atau apa ya? aku sungguh bingung harus ngomong apa. Beneran deh.

“Ya udah aku tutup dulu ya, aku tunggu di tempat kita biasanya bertemu….aku tunggu ya”
sambungan teleponpun terputus.

Aku menghela nafas dan bernafas panjang. “Aku masih baru masuk SMA kang, kenapa kau ungkapkan cintamu sekarang? Cita-citaku masih panjang. Masih banyak prestasi yang mau aku tunjukkan pada kedua orang tuaku” batinku penuh dengan kegalauan. Karena sejujurnya juga Kang Hari adalah tipe pria idamanku. Aku tidak mau menyakitinya dengan menolaknya dan aku juga tidak mau mengecewakan kedua orangtuaku dengan menerimanya. Aku masih belum untuk ini semua. Aku belum siap menjadi dewasa dan berkencan.

Aku datang ke tempat dia menunggu, kafe temannya yang buka di ujung jalan. Aku mencarinya di sekeliling kafe, tertegun pada sosok pria dewasa yang sangat tampan. Dia menoleh dan berdiri kemudian berjalan ke arahku. Aku terdiam karena kekagumanku akan aura yang di pancarkannya.. ya tuhan, tampan sekali.

“Hari ini kamu ga ada acara kan?” tanya Pria itu. Dan akupun tersadar.
“Kang Hari?” tanyaku tak percaya, yang di hadapanku adalah dia.
“Iya Ran, kenapa?”
“Ah nggak, pangling saja”
“Hari ini kamu nggak ada acara kan Ran?”
“Nggak ada sih, emang kenapa Kang”
“Ikut aku ya hari ini”
“Mang mau kemana Kang?”
“Udah ikut aja yuk” tanpa menjelaskan lagi dia menarik tanganku.

Dia mengajakku nonton dan makan. Dia banyak bercerita semua pengalamannya di Ibu Kota. Dan aku hanya mendengarkan dan mengangguk dan sesekali tertawa. Dia memang jago bercanda. Suasana meski kadang canggung tapi dia berusaha mencairkannya.

“Rani, soal surat trakhir yang aku kirimkan ke kamu, pasti kamu sudah membacanya. Dan aku tau sikap kamu yang berbeda hari ini pasti karena surat itu. Apa ada yang salah dengan perasaanku sama kamu Ran?”
Aku terdiam lagi seperti sebelumnya.
“Maaf ya Kang, jujur aku bingung harus bagaimana bersikap dan bagaimana berbicara, rasanya semua begitu tiba-tiba” aku mulai mengungkapkan apa yang aku rasakan.
“Tiba-tiba bagaimana? sebelum-sebelumnya kamu tidak menerima sinyal perasaanku? sikapku selalu berbeda ke kamu dengan temen-teman yang lain”
“Berbeda bagaimana kang? aku rasa sama saja perlakuan kamu ke aku dengan ke yang lain”
“Kamu anggap begitu ya ternyata?”
“Iya Kang”
“Terus….” kata-katanya terhenti dan dia seperti memikirkan banyak hal.
“Selama ini aku menganggap Kang Hari dan yang lainnya adalah sahabat aku Kang, tidak lebih. Dan lagi aku baru kelas 1 SMA Kang, perjalanan aku masih panjang. Masih banyak yang harus kuraih. Aku tidak pernah kepikiran untuk punya teman pria atau yang lainnya. Aku takut pikiranku bercabang dan memikirkan hal yang tidak berguna”
“Hal yang tidak berguna katamu?”
Duh Tuhan aku tidak tau apa yang aku katakan ini benar-benar kejam atau gimana. Saat dia mengatakannya sepertinya hancur hatiku. Aku sangat menyayangi Kang Hari sebagai sahabat dan sebagai seorang kakak.

Kami berdua terdiam, suasana makin canggung.
“Sebenernya Ran, dari saat pertama kali aku bertemu dengan kamu. Aku sudah sangat suka sama kamu. Kamu yang cerdass dan ceria membuat aku selalu merindukan kamu”
“Aku sangat menyayangi kamu Ran…” kata-katanya tiba-tiba terhenti dan dia terdiam lagi.
Aku tidak bisa berkata-kata, kata-katanya membuatku merinding. Aku tidak tau harus berkata apa dan bagaimana. Dan keringat dinginpun tiba-tiba menyerangku. Mataku tiba-tiba gelap, tubuhku lemas.

“Ran… bangun Ran… bangun” suara yang aku kenal samar-samar makin lama makin jelas.
Aku dimana? kenapa aku merasakan lemas. Aku buka kedua mataku, semua samar dan serba putih, banyak orang lalu lalang.
“Dimana aku?”
“Raniii.. syukur kamu sudah sadar”
Aku sadar aku berada di UGD
“kenapa aku disini Kang”
“kamu pingsan Ran” wajah Kang Hari penuh kecemasan. ” Aku ga tau kenapa kamu bisa pingsan tadi.. kamu sudah merasa baikan Ran?”
“badanku lemas sekali Kang”
“Tadi kata dokter kamu hanya lelah saja Ran”
“Iya Kang, kegiatanku sebagai siswa baru banyak banget, jadi kayaknya itu memforsir tubuh aku”
“Oh begitu…ya udah kamu istirahat dulu aja di sini sampai infusnya habis, tubuh kamu lemah sekali kata dokter tadi”

Perhatiannya kenapa membuat aku semakin tidak nyaman dan sakit. Aku tidak tahu apa yang sedang aku rasakan saat ini. Apa sebenarnya perasaanku padanya.

×

Hello!

Silahkan klik dan chat saya untuk informasi lebih lanjut

× hi.. saya ferry oktalia, ada yang bisa kami bantu?
%d bloggers like this: